berlakulah jujur walaupun engkau akan hancur, karena di balik kehancuran itulah letaknya suatu kebahagiaan dan bersikaplah waspada walaupun engkau akan bahagia, karena di balik kebahagiaan itulah letaknya suatu kehancuran...
Tak sengaja melihat gambar lucu... (lupa, ini Ipin apa Upin?)
Terkesan dengan kalimat yang tertulis itu... Sekaligus merasa malu...
Karena selama ini tak pernah aku berterima kasih untuk hal itu
Padahal, siapa yang sehari-hari membantuku saat aku perlu? siapa yang biasa menemaniku saat aku menunggu? siapa yang biasa menghiburku saat aku jemu? siapa yang selalu terbuka mendengarkan keluhku? siapa yang mengajariku saat fikiranku tak menjangkau ilmu? siapa yang mengingatkanku saat syetan & nafsu hampir menjerumuskanku? siapa yang banyak menginspirasiku? siapa yang kerap menegurku dengan penuh sayang saat aku keliru? siapa? siapa? siapa?
hmm...
Sebelum aku lupa... dan kelhilangan kesempatan mengucapkannya... kuingin sampaikan dari lubuk hatiku yang paling dalam
Terimakasih... Karena Kau telah menjadi sahabatku... Moga Allah menyayangimu...
Dalam perjalanan pergi dan pulang kampus dengan sepeda biru, aku selalu menjumpai sedikitnya dua orang yang sakit jiwa (orang gila) yang tidak memiliki keluarga.
Pertama, seorang wanita di sekitar RSHS dekat Sekretariat pengurus cabang Muhammadiyah Sukajadi. Ia sering berjalan-jalan di depan toko-toko dan PKL sambil bicara sendiri dan bahkan (maaf) tanpa busana. Hal ini tentu mengganggu para penjual di sekitarnya, terlebih penjual makanan, karena dapat mengurungkan niat pembeli datang ke situ.
Kedua, seorang bapak dengan usia 50 atau 60-an, yang selalu duduk di bawah jembatan PASUPATI, tepat di seberang gerbang Timur PT Bio Farma. Aku ragu, apakah bapak ini gila atau tidak. Karena ia tampak seperti tuna wisma biasanya. Hanya saja sesekali ia terlihat berbicara sendiri. Satu hal yang kuprihatinkan, ketika dalam tiga bulan terakhir ini, aku memperhatikan kondisi fisiknya. Ia hanya mengenakan baju dan sarung yang tak pernah diganti-ganti. Ia pun tak pernah berpindah posisi. Hanya duduk atau berbaring di tempat itu. Tidak beranjak. Aku sempat melihatnya saat (maaf) tidak mengenakan sarung. Dan yang membuat kaget adalah, kandung kemih si bapak itu di luar normal. Ukurannya mendekati ukuran BOLA VOLI!!! Aku amat terkejut dengan hal itu. Apa bapak ini menderita kanker prostat yang sedemikian parah???!!!
Sekarang, di lokasi yang didiami oleh bapak tersebut, sudah mulai tercium bau yang tak enak. Terang saja, setiap hari bapak tersebut selalu duduk di tempat itu, buang air kecil & besar di tempat itu pula. Dan ia pun tak pernah mandi. Paling tidak selama 3 bulan terakhir yang perhatikan!
Apa yang bisa kulakukan? Jika bapak itu berhak atas kesehatan, siapa yang hendak membiayai operasinya? Tentu harganya amat mahal. Dan lagi, kalaupun ada orang yang punya uang sebanyak itu, tentu ia akan bertanya, “jika ‘orang gila’ itu sembuh, lantas apa manfaatnya bagi kita? Toh dia tetap gila?”
Sebenarnya, masih ada satu lagi orang seperti itu. Orang-orang biasa menamainya “Dede Sarinah” (maaf kepada yang namanya mirip)… ia biasa berjalan-jalan keliling sukajadi, sukagalih, cipedes, dll.
Terakhir (kemarin), masih di sekitar biofarma, aku melihat satu orang lagi, masih muda. Entah pria atau wanita. Yang jelas, tingkahnya sama. Entah berapa banyak lagi yang tidak kusaksikan…
Aku sering bertanya-tanya, siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas kehidupan (khususnya kesehatan) mereka?
Mereka berada di lingkungan lembaga kesehatan: RSHS, Bio Farma, Badan POM & Dinkes,… tapi…???
Dalam perangkat Negara kita, siapa yang bertanggungjawab atas orang-orang seperti itu?
Aku juga tak tahu jalan keluarnya apa dan bagaimana?
Tulisan ini pun dibuat, karena aku tak bisa berbuat apa-apa…
Barang kali teman-teman ada yang punya solusi untuk masalah ini…
Derapkan langkah tatap ke depan… ITB Citra Ganesha… Curahkan daya kejarlah cita… bakti pada Negara… Siapkan diri… teguhkan hati… tegarkan tekad pribadi... Langkah dan karya nyatakan pasti… dambaan Ibu Pertiwi…dst.
Merinding rasanya saat mendengarkan Mars ITB dinyanyikan teman-teman PSM di Sabuga…
Tak kuat rasanya menahan air mata yang hampir meleleh…
Saat dosen pembimbingku harus ke Jerman selama 2 bulan…
Saat hectic mengerjakan Tugas Akhir sambil mengerjakan PKMP yang sama-sama mendekati deadline…
Saat amanah mengkordinir penyiapan peserta & pencarian dana MTQ Nas XI utusan ITB, datang pada saat yang bersamaan…
Saat gagal seminar TAJuni 2009…
Saat PEGilasi-ku gagal hingga 11 kali dengan berbagai modifikasi metode serta memakan waktu berbulan-bulan…
Saat aku hampir kehilangan “muka” di depan pembimbing karena sudah sangat banyak menghabiskan bahan…
Saat aku “divonis” lulus Maret 2010…
Saat aku dan Devan (teman seperjuanganku) saling menguatkan do’a, ikhtiar, dan tekad...
Dan yang terindah…
Yang tak mungkin kulupakan…
saat titik terang itu muncul: pada tanggal 17 Agustus 2009 (tepat pada usiaku yang ke-22) sekitar pukul 23.30 di Lantai 4, lab bioteknologi SF-ITB, PEGilasi Skamutein 2-ku berhasil dilakukan!!!
Alhamdulillah…
Dari sinilah harapan itu hadir dan membawaku ke Sabuga 24 Oktober lalu...
Kado-Nya yang terindah di hari lahirku…
’alaa kulli haal…
Tiga huruf itu telah resmi digandengkan di akhir namaku…
Irfan Agustian Darfiansyah, S.Si.
So what?
Tentu itu bukanlah akhir dari masa studiku…
Bukan pula moment untuk merasa bangga dengan huruf-huruf itu…
Ada makna mendalam yang harus kupahami dan kuamalkan.
Karena huruf-huruf itu mengandung makna, hak, dan kewajiban yang harus ditunaikan.
Ini adalah saatnya berhenti berapologi atas segala kelemahanku!!!
Tak ada lagi maaf, jika aku tak bisa tunaikan kewajiban itu.
Bukan saatnya lagi aku berkata:
“maaf, dulu nilai botani farmasi-ku C, jadi aku tak bisa menjelaskannya padamu…”
“wah, IP-ku kan pas-pasan… tanya temanku yang cum laude aja ya…”
“oh, iya, memang dulu pernah mengerjakannya… tapi sekarang sudah lupa…”
“hmm… apa ya? Kebetulan aku ga ngambil kuliah pilihan itu… jadi wajar lah kalo aku ga tau…”
Sungguh bodoh jika aku masih melakukannya!
Karena setelah tiga huruf itu resmi diberikan…
Tak ada lagi perbedaan hak dan kewajiban…
Pun tak ada apologi untuk tidak menguasai satu bagian pun pada wilayah yang dicakup oleh gelar tersebut.
Karena masyarakat tak akan tanya lagi IP-ku berapa, nilai farmakologiku apa, pernah ga lulus mata kuliah apa, dll. Mereka hanya tahu aku sarjana farmasi, yang harus siap saat mereka membutuhkanku!
Artinya, jika temanku yang cum laude menguasai secara kognitif, afektif, dan psikomotor dalam hal kefarmasian dan segala yang berkaitan dengannya, entah dalam bidang farmakologi, farmaseutika, biologi farmasi, farmakokimia, maupun bioteknologi dengan sangat baik… maka aku pun harus mampu melakukan itu semua dengan sama baiknya,
Karena kami menyandang “tiga huruf” yang sama persis...
tadi pagi, tepatnya ketika jam di HP-ku yang kulebihkan 20 menit menunjukkan angka 08.08 ketika sepeda biruku berhenti di depan angkot biru Kalapa-Sukajadi, tepat di bawah Fly Over, di perempatan Jalan Cipaganti...
aku mendengar sayup-sayup nyanyian anak jalanan... aku tak hapal lagunya, tapi seingatku sering juga mendengar liriknya...
"sesungguhnya manusia tak kan bisa... menikmati syurga... tanpa ikhlas di hatinya..."
satu kalimat yang kudengar itu, benar-benar menusuk qalbu ku. dan menggodaku untuk bertanya satu hal pada diriku sendiri...
"sudahkah aku ikhlash?"
tak bisa kujawab. tepatnya, aku tak tega menjawabnya, jika ku ingat apa konsekuensinya... jika memang keadaanku benar-benar seperti jawaban hatinuraniku itu.
Kang, kuliah di mana? Di Farmasi ITB. Lho, kok ngajar tahsin? Iya, sekarang kan ITB itu Institut Tahsin Bandung… jawabku datar… Hahaha…
Begitu obrolan di salah satu kelas tahsin yang kupegang.
Sedikit menggelitik… Jurusanku Farmasi Tapi lebih dikenal sebagai pengajar tahsin daripada sebagai mahasiswa Farmasi.
Tidak seperti temanku, Pramastya, yang bener-bener anak Farmasi. Kesibukannya benar-benar mencerminkan kalau dia itu mahasiswa Farmasi. Dia juara Olimpiade Biologi waktu SMA, Ketua di organisasi yang aktivitasnya mengembangkan teknologi terapan sederhana di bidang biologi, pernah jadi mapres (mahasiswa berprestasi) di Fakultas, aktif mengikuti riset-riset mahasiswa dan lomba karya ilmiah, asisten beberapa praktikum, mengajar anak SMA untuk persiapan olimpiade, dan 18 Juli nanti sudah akan diwisuda.
Sementara aku, lebih sering mengajar tahsin, ngurus Lembaga Dakwah Fakultas, 2 tahun mengurusi aktivitas masjid kampus, kepanitiaan PMB dan Ramadhan. Dan sekarang, setelah amanah-amanah itu kulepas, karena aku sudah semester akhir, yang tetap nempel hanya satu: pengajar tahsin. Ngajar tahsin untuk teman2 alumnus Unpad yang usianya 2-3 tahun di atasku dan sekarang sedang berbisnis di jalan tubagus ismail, untuk peserta kuliah agama & etika Islam, untuk teman2 beasiswa di Wyata Guna, untuk ibu-ibu pengajian di cipedes, dan untuk anak-anak di madrasah.
Sama sekali aku tidak menyesal dengan aktivitasku ini. Meski beberapa orang nyindir, kuliah di ITB kok malah ngajar tahsin?
Aku tak bisa mendustai diriku sendiri. Aku tak bisa menghapus mimpi yang dulu pernah kutancapkan dengan kuat… sangat kuat. Saat aku duduk di bangku SLTP: Menjadi ulama dan mempunyai pesantren al-Qur’an.
Waktu SLTP, aku penggemar berat Syaikh Yusuf al-Qardhawi, yang sudah hafal Qur’an sejak berusia 10 tahun. Tepatnya sejak aku membaca bukunya, Fatawaa Mu’ashirah, tentu saja yang kubaca adalah buku terjemahannya yang berjudul Fatwa-Fatwa Mutakhir. Sikapnya yang moderat, rasional, tapi senantiasa memiliki landasan syar’i yang kuat, itu yang membuatku kagum. Sejak remaja, ia dikenal telah aktif berdakwah, bahkan telah bergabung dengan jama’ah yang dipimpin Imam Hasan Al-Banna. Dalam Tarbiyatul Mubalighin di pengajian malam kami, aku sering menjadikan tulisan-tulisan beliau sebagai bahan ceramahku ketika aku mendapat giliran.
Sejak SLTP pula, meski tidak mondok di pesantren, aku belajar kitab kuning dari seorang guru yang sangat kuhormati, Ust Z.A. Musthofa, S.Ag. Darinya aku belajar kitab Juruumiyah, Sharaf Kailaany, Imrithy, Safiinatunnajaa, Sulamuttaufiiq, Tijaanuddaraarii, Madaarajissu’uud, Mukhtaarul Ahaadiits, Akhlaaqul baniin, Ta’liimul muta’allim, Fathul Majiid, Sulaamul munaajah, Tanqiihul Qauul, Nuuruzhzhulaam, Syu’bul iimaan, dan beberapa kitab lainnya. Ba’da shubuh, ba’da maghrib, dan ba’da ’isya adalah waktu yang aku dan teman-teman gunakan untuk belajar kepada beliau. Sedang siangnya, kami bersekolah di sekolah masing-masing.
Sejak itu, aku sudah merancang hidupku kelak. Lulus dari SLTP, masuk pesantren, selanjutnya ke Al-Azhar Kairo, kampus tempat Syaikh Yusuf Al-Qardhawy mengenyam pendidikannya. Begitulah mimpiku dulu, ingin menjadi pengajar al-Qur’an. Dr.KH. Irfan Agustian Darfiansyah, Lc, M.A. al-Haafizh. Begitulah kutulis namaku di bagian dalam cover salah satu kitab kuning yang saat itu tengah kupelajari.
Namun, aku tidak diizinkan masuk pesantren. Orang tua dan wali kelasku mendaftarkanku ke SMU Negeri yang bertempat di jalan Cihampelas. Aku tak mau. Sedikit kuturunkan standarku. Aku mau tidak masuk pesantren, asal masuk Madrasah Aliyah. Orang tuaku mengizinkan. Formulir pendaftaran dan ijazah yang sudah dimasukkan ke SMU itu, diambil lagi. Masih sempat mendaftar ke Madrasah Aliyah. Tak apa. Aku masih punya plan B. Setelah lulus Aliyah, aku bisa melanjutkan ke Al-Imarat atau LIPIA, baru ke Al-Azhar Kairo. Dan akupun jadi mendaftar ke sebuah Madrasah Aliyah Negeri di kota Bandung.
Entah mengapa, setelah masuk Madrasah ‘Aliyah, aku justru lebih termotivasi untuk masuk kampus umum, daripada masuk kampus Islam. Saat itu, di mataku, guru- guru sains tampak lebih islami daripada guru-guru agama. Guru kimia, khususnya. Beliau yang pertama memotivasiku untuk masuk ITB. Saat aku duduk di kelas 1. Beliau banyak bercerita tentang adiknya yang telah menjadi doktor di ITB sebelum usianya 30 tahun. Guru kimia lainnya, mempunyai kebiasaan mengabsen siswa setiap pagi (untuk mata pelajarannya) di dalam masjid, usai shalat dhuha. Jadi, anak yang tidak ikut shalat dhuha, dianggap tidak hadir. Wuiihh… aku kagum sekali pada semangat da’wahnya. Semangatku masuk ITB semakin menjadi ketika suatu saat ayahku berkata, Fan dulu Bapa pengen masuk ITB, tapi ga kesampaian. Coba kalo kamu bisa kuliah di sana, Bapa seneng sekali Fan…
Entah mengapa, saat itu mudah sekali bagiku mengubah haluan akademis yang dulu kuimpikan.
Singkat cerita, aku ikut bimbel, ikut SPMB, dan lulus masuk kampus ganesha itu.
Tapi, mimpiku yang dulu pernah kutancapkan itu, sedikitpun tak pernah lenyap. Meski tak pernah terucap dan tertulis lagi, aku tak bisa membohongi hati dan perbuatanku. Aku yang lebih aktif di masjid kampus, lembaga dakwah fakultas, dan mengajar tahsin daripada aktif di unit-unit keprofesian, menunjukkan bahwa aku masih menyimpan cita-citaku itu. Saat universitas impianku kala SLTP dulu tak jadi kumasuki, aku mencari wadah-wadah di kampus ini yang bisa menjadi kompensasi dan menampung mimpi-mimpiku dulu.
Dan sekarang, di penghujung karir akademikku di S1 yang kujalani, aku punya rencana lagi, sebut saja plan C. Setelah wisuda Oktober tahun ini (aamiin), melanjutkan pendidikan profesi apoteker 1 tahun, lalu bekerja guna mencari pengalaman selama 2-3 tahun di industri. Setelah itu mencari beasiswa untuk kuliah S2 di Jerman. Dan di sana, aku bukan hanya ingin mengerjakan riset-riset bioteknologi di kampus terkemuka saja, tapi lebih dari itu. Aku ingin juga mengajari anak2 Jerman membaca al-Qur’an, mengenalkan mereka dengan Islam, dan mendirikan “Koranhaus” atau “Rumah Qur’an” di salah satu kota di sana. Entah bagaimana caranya. Saat ini belum terpikir. Yang jelas, aku harus tuntaskan dulu program tahfizh beasiswaku di LTQ Jendela Hati dalam 4 tahun ini. Soal ilmu al-Qur’an yang dulunya ingin kudapat langsung dari Al-Azhar, mungkin bisa kudapatkan dari Ust Hanan -lulusan jurusan Tafsir Al-Qur’an Al-Azhar- yang bacaan al-Qur’an nya sangat merdu, atau dari Ust Hervi -alumnus Univ Islam Madinah Fakultas Hadits- yang hafalannya sempurna 30 juz, atau…. Sebelum ke Jerman, aku menikah dulu dengan muslimah Indonesia alumnus Al-Azhar Kairo… nanti biar aku belajar sama dia aja… hahaha… ngarep ente Fan!
Apapun, bagaimanapun… Ya, terserah Allah saja lah mau buat skenario seperti apa. Pokoknya, itu mimpiku saat ini. How to achieve it? Nanti lah ku pikir2 lagi.
Yang penting sekarang adalah, memelihara mimpi itu, agar ia tak lari pergi. Dan mengajar tahsin, adalah caraku memelihara mimpi.
"Lang, Erdo, Danang,... saya telat ya ke lab nya... masih lemes, abis jatuh tadi malem..."
"Fren, sorry ya, saya telat datang rapatnya... soalnya mau nganterin dulu kakak niy..."
"Aduh, maaf, belum saya kerjain. Ada amanah lain nich... Maaf yach..."
Tulisan di atas kerap sekali meluncur dari HP-ku, ke beberapa layar ponsel teman-temanku...
Huh... Cupu!
Hingga saat ini aku masih tidak profesional. Masih suka membenturkan satu peran dengan peran-peran lainnya. Yang lebih parah, berapologi untuk tidak profesional di satu peran dengan menjadikan peran lain sebagai kambing hitam...
Cukup sudah!!!
Rasulullah adalah pemimpin agama, kepala negara, seorang suami dari beberapa isteri, ayah dari 7 anak, seorang panglima perang, dll. Dan beliau tidak pernah berapologi untuk tidak menunaikan hak keluarganya dengan alasan dakwah, atau membenturkan satu peran dengan peran lainnya.
Orang shalih itu, sadar dengan pilihan-pilihannya, dan berani bertanggungjawab atas setiap pilihan itu.
Aku sudah memilih peran-peran itu. Tidak ada alasan lagi untuk setengah-setengah dalam menjalankan setiap peran tersebut. Karena aku sudah memilihnya, Aku harus bertanggungjawab atas pilihan-pilihan itu... Dan berhenti berapologi... Apalagi mengambinghitamkan peran-peran lainnya...
tentang hari-harinya yang menyenangkan tentang bisnisnya yang melaju pesat tentang prestasi akademiknya yang baik tentang rencana-rencananya yang selalu berjalan lancar tentang kebaikannya, keberuntungannya, kebahagiaannya...
dan tak jelas apa maksudnya menceritakan semua itu apalagi kalau kebetulan saat itu kondisi ku sedang buruk... kebalikan dari kondisinya... mestinya bagaimana harus merespon?
saya suka bingung... kadang salah tingkah... "oya?"... "wah, selamat ya!" ... "alhamdulillah"... "wah, saya juga mau lho kayak kamu!"...
tak jarang, aku hanya tersenyum saja...
pernahkah Anda di posisi yang sama? bagaimana biasanya Anda bersikap?
Tadi, sepulang dari Salman, jalan taman sari macet bukan main. Maklum lah... ITB lagi ngadain USM.
Seperti biasa, kulewati jalan, liku-liku celah antar kendaraan dengan sepeda biru... hingga tiba di perempatan balubur, dekat kantor rektorat.
Di situ, kulihat mobil-mobil "berdesakan" tak karuan. Lampu lalulintas yang "berteriak-teriak" dengan lampu merahnya menyuruh stop kendaraan di salah satu jalur, namun tak ada yang menggubris. Akibatnya, kendaraan di jalur lain yang berhak melaju pun terhalangi oleh rentetetan kendaraan yang tak patuh itu.
Saat itu aku berada di salah satu jalur yang mendapat giliran berhenti, di paling depan. Dan aku pun berhenti mengikuti komando sang lampu lalulintas.
Tak lama kemudian, kudengar klakson berbunyi nyaring dari mobil di belakangku. Ia merasa terhalangi oleh sepeda biruku. Memang pada detik itu, jalan di depanku bisa diisi satu kendaraan. Tapi itu di tengah jalan. Itu adalah haknya kendaraan dari arah Barat (dari fly over) untuk melintas. Namun karena terhalang kendaraan dari arah selatan yang terus menerobos, mereka jadi terhalang.
Aku masih terdiam di baris terdepan di jalurku. Klakson dari mobil di belakangku semakin intens dibunyikan. Aku masih tak merasa, hingga seseorang dari pinggir jalan berteriak memberitahuku "Mas Mas, sepeda nya menghalangi mobil di belakang!!!"
Dalam keadaan heran dan kesal, kugeserkan sepedaku memberi jalan. Padahal saat itu, lampu lalulintas masih menyuruh kendaraan di jalurku diam.
Ingin aku balas berteriak... "Kalian ga punya mata apa? Lampu di depan kan masih merah!!!"
Untung saja ucapan itu berhenti di sinaps tertentu sebelum sampai ke efektor penghasil suaraku. Uuuugh... kesal...
Jadi kepikiran... Betapa beratnya menegakkan kebenaran di sini... Berat sekali tugas para penegak hukum (yang jujur) di negeri ini... Tak jarang mereka harus dianggap penjahat ketika berbuat yang benar... Menjadi salah ketika benar, dan menjadi benar ketika salah. Atau dibilang "sok baik", "sok disiplin", "sok jujur", dan "sok-sok yang lain"...
Tapi, Umar, ketika menjelang wafat karena ditusuk seseorang saat mengimami shalat... Ia bertanya: "Siapa yang menusukku? Apakah seorang mukmin?" Ternyata bukan. Dan Ia pun merasa tenang. Karena itu artinya, dia di pihak yang benar. Dia akan merasa bersalah jika dibenci oleh orang mukmin. Tapi tidak, ketika dibenci dan dimusuhi oleh orang jahat...
Yah... Sabar Fan... Baru juga diteriaki gitu... Belum sampai ditusuk! ga usah kesal...
Ikhlash itu, kita memurnikan amal-amal kita dari segala maksud, kecuali untuk mendapat ridha Allah
Ikhlash itu, kita tidak mengharap pujian, sanjungan, penghormatan, penghargaan atau apapun dari manusia
Ikhlash itu, kita hanya punya satu motif atas amal-amal kita: ridha Allah
Petani yang ikhlash itu, banyak-sedikitnya hasil panen yang diperoleh, tidak mempengaruhi kesungguhannya dalam bekerja. Tak kan berleha-leha saat panennya melimpah dan tak kan kecewa saat panennya merosot. Mereka akan tetap bekerja dengan performa terbaik.
Pedagang yang ikhlash itu, banyak-sedikitnya untung yang ia terima, tidak mempengaruhi kejujurannya dalam berdagang. Tak kan takabur saat untungnya melimpah dan tak kan curang saat untungnya semakin menipis. Ia akan tetap bekerja dengan usaha terbaiknya.
Muballigh yang ikhlash itu, banyak sedikitnya mustami’, tidak akan mempengaruhi semangatnya untuk tetap terus berdakwah. Tak kan ujub ketika mustami’nya banyak dan tak kan berhenti dakwahnya saat tak ada yang mau mendengarkan seruannya. Ia akan terus mengajak manusia untuk hanya meng-ilahkan Allah.
Guru yang ikhlash itu, besar-kecilnya gaji yang diterima, tidak akan mempengaruhi kesungguhannya dalam mendidik. Cerdas-tidaknya murid pun takkan mempengaruhi semangatnya dalam mengajari mereka. Ia akan tetap tekun dan mengajari murid-muridnya, bagaimanapun keadaan intelektual yang Allah karuniakan atas mereka. Sedikit pun, tak kan berkurang ketulusannya.
Mahasiswa yang ikhlash itu, besar-kecilnya indeks prestasi (IP) yang dicapai, tak kan mempengaruhi semangatnya dalam belajar. Ia tak kan merasa paling pandai saat IP nya tinggi, juga tak kan rendah diri saat IP nya rendah. Sedikit pun semangatnya tak kan surut untuk mencari ilmu, hanya karena ia tak mendapat pengakuan prestasi dari institusi, dosen, atau teman-temannya. Karena ia belajar, bukan sekadar mencari angka. Ia belajar untuk menunaikan perintah Allah. Karena Allah menghargai orang-orang yang beriman dan berilmu.
Mereka, orang-orang yang sedikitpun tak pernah semangatnya surut, bahkan ketika kerja-kerja mereka tidak mendapatkan pengakuan yang semestinya dari manusia. Karena mereka sadar dan yakin akan firman Allah:
“Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Q.S. at-Taubah:105)
Merekalah satu di antara orang-orang yang ikhlash… mukhlishiin
Orang yang Allah ridha pada mereka, dan mereka pun ridha pada-Nya
Sudah dua kali aku bolos halaqah tahfizh. Dengan alasan yang bisa dimaklumi oleh ustadz. Mengerjakan Tugas Akhir di lab. Yang pertama sih... betul2 kerja di lab. Lembur sampai malam. Tapi yang kedua, sedikit (banyak sich…) didramatisasi. Aslinya karena ga ada yang bisa disetorkan.
Hampir saja aku menambah catatan bolosku. Sore itu aku berniat untuk tidak berangkat lagi. Maklum, besoknya kan UAS Manajemen & Kewirausahaan. Pasti ustadz mengerti. Namun, Allah berkehendak lain. Allah ingin aku berangkat halaqah hari itu. Ya. Buktinya, sore itu aku “terpaksa” berangkat. Nekat. Dengan hafalan yang tak sampai sehalaman untuk disetorkan. Sore itu aku “dipaksa” Hyang untuk berangkat. Ya, Hyang yang bolosnya sudah 5 kali, tiba-tiba sore itu memaksaku untuk berangkat.
Aku tak bisa berkelit. Sore itu pun kami berangkat. Karena bareng Hyang, sepeda biru yang biasa menemani perjalananku melewati tanjakan dan turunan cigadung, kutinggalkan di basement salman. Kami berangkat naik angkot. Di sepanjang jalan, aku berusaha menambah hafalanku. Supaya tidak terlalu memalukan. Sesekali kami hentikan menambah hafalan dan mulai bercerita tentang masa depan… (panjang lah ceritanya. Dan judul tulisan ini bukan tentang itu… jadi, kuceritakan nanti saja di lain kesempatan…)
Singkat cerita, tibalah saatnya aku menyetorkan hafalanku. Surah An-Najm.
“Wannajmi idzaa hawaa. Maa dhalla shaahibukum wamaa ghawaa… (dekkkk…apa lagi ya?)”
“Wamaa yanthiqu ‘anil hawaa. In huwa illaa wahyuyyuuhaa. .........afatumaaruunahuu ‘alaa maa yaraa… (tuing…tuing… lupa lagi… ya Allah… kemana hafalanku… tadi hafal kok 22 ayat… waduh2….)”
Akhirnya kuulangi bacaanku, dan sore itu aku berhasil menyetorkan 21 ayat. Lumayan lah...
(Sabar2… belum masuk ke inti penulisan nich…)
Usai setoran, seperti biasa, ustadz mengumpulkan kami dan menutup dengan taushiyah menjelang maghrib.
Ikhwati fillah,
Saya ingin menyampaikan pribadi seorang shahabat, yang kisahnya diceritakan dalam surah ‘Abasa. Antum tentu sudah hafal suratnya. Dialah ‘Abdullah bin Ummi Maktum. Shahabat nabi yang diberi keterbatasan oleh Allah berupa mata yang tak dapat melihat.
Kalau kita lihat kondisi fisik beliau, beliau termasuk orang yang sangat memiliki alasan syar’i, peluang toleransi yang besar dari Allah dan Rasul-Nya untuk tidak sesempurna shahabat yang lain dalam melaksanakan kewajiban. Karena beliau buta.
Tapi, tahukah Antum?
Beliau tidak pernah absen shalat berjama’ah di masjid. Bahkan beliau termasuk salah seorang mu’adzin disamping Bilal. Artinya beliau adalah orang yang datang ke masjid lebih awal dari shahabat yang lain.
Beliau hampir tidak pernah absen dalam peperangan. Bahkan, beliau termasuk salahseorang yang dipercaya memegang panji Islam saat itu.
Padahal bukankah beliau berhak atas izin syar’i dari Allah dan rasul-Nya untuk tidak ikut berperang, atau sesekali tidak shalat berjama’ah di masjid, atau tidak berhaji, atau tidak melaksanakan beberapa kewajiban lainnya karena ia buta?
Tapi, sekali pun ia tidak menjadikan kekurangan fisiknya sebagai alasan untuk tidak berangkat berperang, untuk tidak shalat berjama'ah di masjid, atau untuk mendapatkan rukhshah-rukhshah lainnya.
Ikhwati fillah,
Ketika seseorang sudah berniat untuk tidak pergi berperang, maka Allah akan mudahkan baginya memperoleh setumpuk alasan untuk merasionalkan ketidak berangkatannya.
Sama seperti Antum. Ketika Antum sudah berniat untuk tidak hadir dalam halaqah tahfizh ini, maka Allah akan berikan sejumlah alasan itu agar antum tidak berangkat. Sibuk kuliah, kerja, ujian, urusan keluarga, sakit ringan yang didramatisir, tidak ada ayat yang bisa disetorkan, dll. Alasan itu akan mudah sekali dicari. Tapi jika Antum telah bertekad untuk berangkat, alasan apapun yang muncul, tidak akan menghalangi keberangkatan Antum.
Beruntunglah Antum yang telah berhasil melewati godaan syetan yang pertama, yaitu untuk menjauhkan Antum dari kenikmatan menghafalkan ayat-ayat Allah dan dari teman-teman yang dapat mengingatkan Antum untuk senantiasa istiqamah. Meskipun tidak ada ayat yang bisa antum setorkan...
Alangkah beruntungnya aku. Untung saja sore itu ada Hyang yang memaksaku pergi. Aku memang sangat rindu dengan nasihat seperti itu. Terimakasih Ya Allah, telah memberiku kesempatan berada dilingkungan orang-orang shalih. Terimakasih Ustadz, atas taushiah yang menghancurkan dinding kemalasanku. Terimakasih Hyang, telah memaksaku keluar dari neraka kemalasan...
Moga bisa istiqamah...
Allaahummarhamnaa bil Qur aan. Waj’alhu lanaa imaaman wa nuuran wa hudan wa rahmah…
seorang insan yang ingin selalu "belajar" memahami setiap episode hidup dan mengakhirinya setelah tuntas mengerahkan segenap potensi yang dikaruniakan Tuhan...